August 26, 2008

di stasiun kereta senja

tertatap penuh wajah itu
dekat peron stasiun kereta api senja
kusam, berlebam, dengan senyum mengambang
hingga lembut kesunyian pun menyergapnya
ketika waktu berangkat surut
seakan tanpa kenangan

lepas lalu waktu, saat kereta lewat satu-satu
ia terdiam
menggigit jari serta sesekali bergumam
di antara gelisah bergelut bimbang
dan gundah diaduk tenang
“betapa nian …”, ujarnya

sayang, ia tidak tahu
betapa pula jejak telah terkalang


yogyakarta,
agustus 1997/maret 1998/maret 2000

0 comments: