mata ilalang itu jatuh
nampak helai demi helai
di tengah gurun aletheia
bergemericik nilai-nilainya lembut
lalu timbul tenggelam
dalam bayang nisan-nisan sunyi
sementara …
jeram kabut berjela-jela
di kaki gunung galunggung
reot-reotnya bilik bambu kuning
dalam harpa ujung kehampaan
tinggal mendekam relung cahaya
tak terlukiskan …
kebisuan ini beranak pekak
mengusung debu-debu hitam pinggir kali
tetapan sisi temaram yang bersemi
tak tergores …
lentik jari-jari semu
ya Allah … mestikah ini terus terucap ?
cintaraja, 14 agustus 1997
: aletheia, tak tersembunyi (yunani)
menurut heidegger, ini dapat dimaknai pula sebagai
“sesuatu yang benar” atau “kebenaran”
August 18, 2008
galau aletheia
Posted by 4im at 8:41 PM
Labels: Indonesian Poems
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment