“nak ...,
cintailah malam
seperti engkau simpan kenangan
bunyi cengkerik di sela rumputan
heningnya ...
sejernih kasih sayang
peluk ibu di haribaan
menghantarkan jiwa kita
ke lubuk impian”
sejenak ia pandang anaknya di pangkuan
menatap penuh perhatian
sepertinya hendak mengatakan, “benarkah itu …, ayah?”
lembut elusan di kepala serta ucapan
“nak …,
cintailah malam
seperti temanmu sendiri
bangun dan bermainlah
dengan genap cahya purnama
terang di sekelilingmu
hingga ’kau berasa lelah”
redup perlahan bola mata kecil itu
menjelang kedamaian
lalu lelap dibawa mimpi
tentang permainan dan canda tawa
di bawah purnama
dibenahkan ia di sisi
pula kecupan atas kening
… hangat
“nak …,
bila gelap menurun
itulah saatnya
kalau pekat kabut menyelimut
urunglah niatmu darinya
.......”
kembali ucap bergumam
di sekitar bale-bale
ia lihat
surya telah lama tenggelam
meninggalkan ufuk barat
jelas kini
sabit itu bersanding gemintang
dalam malam ...
ia menyimpan sejuta rahasia
dari banyak pengertian
sawit sari,
18 maret / 22 maret 1999
October 24, 2008
gelap menurun
Posted by 4im at 10:38 AM
Labels: Indonesian Poems
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment