berikutnya kita lari
tapi kita tak hendak meyakini
bahwa hari terasa berat ’tuk dijalani
perasaan-perasaan yang terus membayang
seakan sibuk dalam degupnya yang demikian lembut
mengapa ’kau begitu jauh ...?
pertanyaan ini bukan tanpa alasan
saat kerinduan menghangat kalbu
sekejap terasa
’kau membawa syahdu
memecah api beku
tapi ..., tak pernah ’ku coba ’tuk menyatakannya
(kecuali saat ini ...?)
yogyakarta,
18 november / 21 desember 1998
: priyasakha
October 19, 2008
syahdu
Posted by 4im at 10:34 PM
Labels: Indonesian Poems
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment